Baca Penafian Lengkap →
Investerbaik – Di dunia investasi saham, istilah ‘bandar’ sering memicu rasa penasaran. Siapa sebenarnya mereka? Dalam konteks pasar modal Indonesia, ‘bandar’ (atau market maker) merujuk pada pelaku pasar dengan modal jumbo bisa individu high net-worth, institusi keuangan, atau konsorsium yang memiliki kemampuan menggerakkan harga saham karena besarnya volume transaksi mereka.
Perlu diingat: Mereka bukan entitas ilegal. Mereka adalah smart money yang punya sumber daya lebih untuk riset dan strategi. Aktivitas mereka biasanya terbagi dalam fase Akumulasi (beli bertahap), Partisipasi (harga naik), dan Distribusi (jualan/ambil untung).
Bagi investor ritel, mendeteksi fase Akumulasi adalah kunci. Ini menandakan “pemain besar” sedang masuk karena meyakini prospek saham tersebut.
- Cara Mendeteksi Saham yang Sedang Diakumulasi ‘Bandar’
- 1. Anomali Volume di Area Support (Harga Bawah)
- 2. Broker Summary (Broxsum) yang Terkonsentrasi
- 3. Pola “Mark Up” Kecil di Penutupan (Pre-Closing)
- Sektor yang Biasanya Menjadi “Mainan” Bandar
- Strategi Menyikapi Pergerakan Bandar (“Numpang Ombak”)
Cara Mendeteksi Saham yang Sedang Diakumulasi ‘Bandar’
Daripada menebak-nebak kode saham fiktif, lebih baik kamu memahami pola nyata yang terjadi di pasar saat bandar sedang bekerja. Berikut adalah 3 tanda utama yang bisa kamu lihat di running trade atau chart:
1. Anomali Volume di Area Support (Harga Bawah)
-
Cirinya: Harga saham cenderung bergerak mendatar (sideways) atau turun perlahan dalam waktu lama, TAPI tiba-tiba muncul lonjakan volume transaksi yang signifikan.
-
Artinya: Ada pihak yang menampung barang jualan ritel. Saat ritel bosan dan jual rugi (cut loss), bandar menampung saham tersebut tanpa membuat harga naik drastis (menjaga harga tetap murah).
2. Broker Summary (Broxsum) yang Terkonsentrasi
-
Cirinya: Jika kamu melihat data transaksi harian, perhatikan kolom Buyer dan Seller. Tanda akumulasi adalah ketika sedikit broker membeli dalam jumlah banyak (Top 1-3 Buyer dominan), sementara yang menjual adalah banyak broker dengan jumlah kecil-kecil (ritel).
-
Contoh: Broker A membeli 50.000 lot sendirian, sementara yang menjual adalah Broker B, C, D, E, F masing-masing cuma 5.000-10.000 lot. Ini indikasi barang sedang “dikumpulkan” ke satu tangan.
3. Pola “Mark Up” Kecil di Penutupan (Pre-Closing)
-
Cirinya: Sepanjang hari harga ditekan atau dibiarkan merah, tapi jelang penutupan sesi 2, harga tiba-tiba ditarik naik sedikit (misal dari -2% jadi 0% atau +1%).
-
Artinya: Bandar menjaga agar harga penutupan tetap bagus secara teknikal (chart) supaya tidak merusak tren, meskipun mereka sedang akumulasi diam-diam.
Sektor yang Biasanya Menjadi “Mainan” Bandar
Meski sahamnya berganti-ganti, bandar biasanya menyukai sektor yang punya cerita (story) kuat untuk menarik minat ritel nantinya. Saat ini, perhatikan sektor berikut:
-
Energi & Komoditas: Sangat sensitif terhadap harga acuan global (Minyak, CPO, Batubara). Bandar sering masuk sebelum harga komoditas rebound.
-
Banking (Second Liner): Bank buku kecil/menengah yang sering diisukan akan diakuisisi atau merger menjadi bank digital. Volatilitasnya tinggi dan disukai trader.
-
Teknologi & Infrastruktur: Terutama saham-saham yang berkaitan dengan proyek strategis nasional atau tren AI/Data Center.
Strategi Menyikapi Pergerakan Bandar (“Numpang Ombak”)
Jangan asal HAKA (Hajar Kanan). Ikuti langkah ini agar tidak jadi korban “cuci piring”:
-
Validasi dengan Teknikal: Meski terlihat ada akumulasi bandar, pastikan grafik harga mendukung. Tunggu momen breakout (harga menembus resisten) dengan volume tinggi sebagai konfirmasi.
-
Cek Fundamental Singkat: Apakah perusahaan ini untung? Atau setidaknya punya prospek jelas? Bandar juga manusia; mereka lebih berani akumulasi di perusahaan yang fundamentalnya ada harapan, bukan yang mau bangkrut.
-
Disiplin Stop Loss: Bandar bisa saja membatalkan rencana mereka atau membuang barang tiba-tiba jika kondisi pasar global memburuk. Selalu pasang batas kerugian.
-
Money Management: Jangan taruh semua modal di satu saham gorengan/lapis tiga. Saham yang dikuasai bandar cenderung sangat fluktuatif (naik turun drastis).
Kesimpulan: Istilah “Bandar” bukanlah hantu, melainkan mekanisme pasar di mana yang bermodal besar memimpin arah harga. Jangan percaya buta pada kode saham yang “katanya” lagi diakumulasi tanpa mengecek sendiri data transaksi (Broxsum) dan grafiknya. Jadilah investor mandiri yang kritis!
Disclaimer: Investerbaik adalah media informasi dan edukasi, bukan manajer investasi. Segala keputusan investasi ada di tangan Kamu.


