Baca Penafian Lengkap →
Investerbaik – Siapa sangka negara kecil seperti Bhutan juga punya ‘mainan’ Bitcoin? Baru-baru ini, negara yang terkenal dengan konsep Gross National Happiness ini diketahui menjual Bitcoin senilai US$22,4 juta, atau sekitar Rp350 miliar! Angka yang lumayan banget, kan? Tapi, ini bukan tanpa alasan. Penjualan ini terjadi di tengah kondisi portofolio kripto mereka yang anjlok lebih dari 70%.

- Bhutan dan ‘Petualangan’ Kriptonya
- Kenapa Jual Bitcoin Saat Harganya Turun?
- 1. Profit Taking dan Diversifikasi Aset
- 2. Manajemen Risiko
- 3. Kebutuhan Likuiditas
- 4. Pola Likuidasi Berkala
- Dampak Penjualan Bitcoin Bhutan ke Pasar
- Apa yang Bisa Kita Pelajari?
- 1. Investasi Itu Jangka Panjang Tapi Fleksibel
- 2. Pahami Risiko Aset Kripto
- 3. Pentingnya Diversifikasi
- 4. Jangan Ikut Panik
- Bagaimana dengan Aset Lain di Investerbaik?
Bhutan dan ‘Petualangan’ Kriptonya
Jadi gini, Pemerintah Kerajaan Bhutan ini ternyata udah jadi pemain kripto sejak 2019. Mereka nggak cuma nyimpen, tapi juga aktif menambang Bitcoin. Nah, saat pasar kripto lagi ‘boom’, portofolio Bitcoin mereka sempat membengkak sampai US$1,4 miliar. Gede banget, kan? Tapi namanya juga pasar aset digital, naik turunnya emang kayak roller coaster.
Minggu ini, sekitar US$22,4 juta Bitcoin dialihkan dari ‘dompet’ negara. Sebagian transaksi ini bahkan langsung ke market maker institusional, QCP Capital. Ini nunjukkin kalau Bhutan serius dalam mengelola aset kriptonya, meskipun untuk saat ini keputusannya adalah melakukan likuidasi.
Kenapa Jual Bitcoin Saat Harganya Turun?
Mungkin kamu bertanya-tanya, kok jual pas lagi turun? Ini beberapa kemungkinan yang bisa jadi alasan Pemerintah Bhutan:
1. Profit Taking dan Diversifikasi Aset
Meskipun portofolionya turun dari puncak, bukan berarti mereka nggak untung sama sekali. Kalau mereka menambang dan membeli Bitcoin sejak 2019, kemungkinan besar mereka punya cost basis yang cukup rendah. Menjual sebagian aset, meskipun sedang dalam tren turun, bisa jadi strategi untuk mengamankan keuntungan dan memindahkan dana ke aset lain yang dianggap lebih stabil atau punya potensi pertumbuhan berbeda.
2. Manajemen Risiko
Pasar kripto memang dikenal sangat volatil. Dengan portofolio yang tadinya fantastis tapi kemudian anjlok lebih dari 70%, ini bisa jadi sinyal kuat bagi pemerintah untuk mengurangi eksposur risiko mereka. Menjual sebagian aset adalah cara untuk membatasi kerugian lebih lanjut dan memastikan stabilitas keuangan negara.
3. Kebutuhan Likuiditas
Ada kemungkinan Bhutan membutuhkan dana tunai untuk berbagai keperluan negara, seperti pembangunan infrastruktur, program sosial, atau stabilisasi ekonomi. Menjual aset kripto yang bernilai besar bisa menjadi sumber pendanaan yang cepat.
4. Pola Likuidasi Berkala
Seperti yang disebutkan di awal, transaksi ini melanjutkan pola likuidasi berkala. Ini bisa jadi strategi yang sudah direncanakan untuk merealisasikan sebagian keuntungan secara bertahap atau untuk menyesuaikan alokasi aset secara periodik. Bukan kejadian ‘panik sell’, tapi lebih ke manajemen portofolio yang terstruktur.
Dampak Penjualan Bitcoin Bhutan ke Pasar
Dengan nilai penjualan sekitar Rp350 miliar, apakah ini akan mengguncang pasar Bitcoin global? Kemungkinan besar tidak secara signifikan. Pasar Bitcoin itu ‘gede’ banget, dengan likuiditas triliunan dolar setiap harinya. Transaksi sebesar ini, meskipun besar bagi Bhutan, relatif kecil jika dibandingkan dengan volume perdagangan harian Bitcoin global.
Namun, berita ini tetap menarik karena datang dari sebuah negara. Ini menunjukkan bahwa institusi negara pun bisa masuk dan keluar dari pasar aset kripto. Ini bisa menjadi semacam ‘sinyal’ bagi investor lain, terutama institusional, tentang bagaimana aset kripto dilihat dan dikelola oleh entitas negara.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Dari cerita Bhutan ini, ada beberapa pelajaran penting buat kamu yang baru mulai investasi, terutama di aset kripto:
1. Investasi Itu Jangka Panjang Tapi Fleksibel
Bhutan menambang dan menyimpan Bitcoin sejak 2019. Ini menunjukkan visi jangka panjang. Namun, mereka juga fleksibel untuk mengambil keputusan menjual ketika kondisi pasar atau kebutuhan negara mengharuskan. Keseimbangan antara visi jangka panjang dan kemampuan beradaptasi itu krusial.
2. Pahami Risiko Aset Kripto
Kisah anjloknya portofolio Bhutan lebih dari 70% adalah pengingat nyata bahwa kripto itu berisiko tinggi. Jangan pernah investasi lebih dari yang kamu siap untuk kehilangan.
3. Pentingnya Diversifikasi
Meskipun Bhutan fokus pada Bitcoin, idealnya sebuah portofolio investasi itu terdiversifikasi. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Kombinasikan dengan saham, emas, atau aset lainnya sesuai profil risikomu.
4. Jangan Ikut Panik
Keputusan Bhutan untuk menjual tampaknya adalah bagian dari strategi, bukan panik. Sebagai investor, penting untuk punya alasan jelas di balik setiap keputusan jual atau beli, berdasarkan analisis, bukan emosi.
Bagaimana dengan Aset Lain di Investerbaik?
Di Investerbaik, kami nggak cuma bahas soal kripto. Kamu bisa temukan juga update seputar saham Indonesia seperti IHSG, saham-saham bluechip macam BBRI dan BBCA, serta emiten energi seperti ADRO. Buat kamu yang melirik pasar global, kami juga bahas saham-saham US yang lagi hits di Nasdaq dan NYSE, plus analisis saham teknologi seperti Nvidia dan Tesla.
Nggak ketinggalan, aset safe haven seperti Emas juga kami kupas tuntas, dari Antam sampai harga emas spot. Semua disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, cocok banget buat kamu yang baru merintis karir investasi.
Jadi, yuk terus belajar dan eksplorasi dunia investasi bareng Investerbaik!


