Mengapa Harga Obligasi Naik Saat Yield Turun? Panduan Mendalam Hubungan Terbalik di Pasar Utang

Ditnov
Januari 3, 2026
50x Dilihat
Belajar Saham
Disclaimer Penting
Harap diperhatikan bahwa konten di Investerbaik.com hanya bersifat edukasi dan informasi. Kami TIDAK mengajak, menyarankan, atau memaksa kamu untuk membeli aset keuangan apapun (seperti saham, reksa dana, obligasi, aset kripto, dan lainnya). Segala keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan kamu.

Baca Penafian Lengkap →

Selamat Datang di Pasar Obligasi: Hukum Dasar yang Harus Kamu Tahu

Halo, Sobat Investerbaik! Jika kamu sering melihat berita tentang pasar keuangan, mungkin kamu pernah membaca judul yang sekilas terdengar kontradiktif, seperti yang muncul dalam berita ini: “Indeks Obligasi Naik, Yield Bergerak Turun.”

Bagi investor pemula, ini mungkin membingungkan. Bagaimana bisa harga (yang dicerminkan oleh Indeks Obligasi) naik, sementara imbal hasil (yield) yang didapat justru turun? Bukankah seharusnya semakin tinggi imbal hasil, harga semakin menarik?

Jawabannya terletak pada konsep fundamental yang menjadi pilar utama investasi pendapatan tetap (Fixed Income): Hubungan Terbalik antara Harga Obligasi dan Yield-nya. Ini adalah hukum wajib yang harus kamu pahami sebelum terjun ke pasar obligasi, baik itu Surat Utang Negara (SUN) maupun obligasi korporasi.

Konsep Dasar: Apa Itu Obligasi dan Yield?

Sebelum kita membahas hubungan terbalik, mari kita samakan persepsi dulu. Obligasi pada dasarnya adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan. Ketika kamu membeli obligasi, kamu sedang memberikan pinjaman kepada penerbit.

Memahami Kupon (Bunga Tetap)

Obligasi memiliki dua komponen utama yang perlu kamu ingat:

  1. Nilai Nominal (Par Value): Jumlah uang yang akan kamu terima kembali saat obligasi jatuh tempo.
  2. Kupon (Coupon Rate): Tingkat bunga tetap tahunan yang dibayarkan penerbit kepadamu. Angka ini ditetapkan sejak awal dan tidak berubah sepanjang masa obligasi.

Kupon inilah yang sering disalahartikan sebagai yield. Padahal, yield adalah ukuran yang lebih dinamis.

Memahami Yield: Imbal Hasil yang Dinamis

Dalam konteks berita keuangan, ketika kita bicara ‘Yield Obligasi’, kita sering merujuk pada Yield to Maturity (YTM). YTM adalah total imbal hasil yang diharapkan didapatkan investor jika obligasi tersebut dipegang hingga jatuh tempo, dengan memperhitungkan semua pembayaran kupon serta potensi keuntungan atau kerugian modal dari perbedaan harga beli dan harga nominal.

Penting: YTM diukur relatif terhadap harga pasar obligasi saat ini. Karena obligasi diperdagangkan di pasar terbuka, harganya bisa naik atau turun tergantung permintaan dan penawaran. Kuponnya tetap, tetapi harganya berubah. Perubahan harga inilah yang menyebabkan yield obligasi bergerak.

Hukum Dasar Pasar Obligasi: Harga Berbanding Terbalik dengan Yield

Inilah inti dari pelajaran kita. Ketika harga obligasi di pasar naik, maka yield (YTM) obligasi tersebut akan turun. Sebaliknya, ketika harga obligasi turun, maka yield obligasi tersebut akan naik.

Mengapa? Karena kupon (pembayaran bunga) adalah angka yang tetap. Jika kamu membayar harga yang lebih mahal untuk mendapatkan kupon yang tetap, secara relatif imbal hasil yang kamu terima (persentase dari modal awal) menjadi lebih kecil. Sebaliknya, jika kamu mendapatkan kupon yang sama namun kamu membelinya dengan harga diskon (lebih murah), imbal hasil relatifmu menjadi lebih besar.

Studi Kasus 1: Harga Obligasi Naik (Yield Turun)

Bayangkan ada Obligasi A yang memiliki kupon 6% per tahun dan harga nominal Rp 1.000.000. Obligasi ini diterbitkan saat suku bunga acuan (misalnya, suku bunga bank sentral) di level 5%.

Beberapa bulan kemudian, kondisi ekonomi memburuk, dan Bank Sentral memutuskan menurunkan suku bunga acuan menjadi 3%. Apa yang terjadi?

  1. Daya Tarik Obligasi A Meningkat: Obligasi A yang menawarkan kupon 6% sekarang jauh lebih menarik dibandingkan produk investasi baru di pasar yang mungkin hanya menawarkan bunga 3% atau 4%.
  2. Permintaan Naik: Banyak investor (terutama institusi besar) berbondong-bondong membeli Obligasi A yang sudah beredar.
  3. Harga Naik: Kenaikan permintaan ini mendorong harga Obligasi A di pasar sekunder (bursa) menjadi di atas nominal, misalnya menjadi Rp 1.050.000.

Meskipun kamu membayar Rp 1.050.000, kamu tetap hanya menerima kupon 6% dari nominal Rp 1.000.000, yaitu Rp 60.000 per tahun. Secara persentase, Rp 60.000 dari modal Rp 1.050.000 menghasilkan yield yang lebih rendah dari 6%. Dalam hal ini, harga naik, dan yield turun. Inilah yang terjadi pada Indeks Obligasi di berita tersebut.

Studi Kasus 2: Harga Obligasi Turun (Yield Naik)

Ambil kembali Obligasi A (Kupon 6%, Nominal Rp 1.000.000). Kali ini, ekonomi membaik, inflasi tinggi, dan Bank Sentral memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 8%.

  1. Daya Tarik Obligasi A Menurun: Investor kini bisa mendapatkan obligasi baru di pasar yang menawarkan kupon 8% atau 9%. Obligasi A dengan kupon 6% menjadi tidak menarik.
  2. Penjualan Masif: Investor mulai menjual Obligasi A yang lama untuk beralih ke investasi dengan yield yang lebih tinggi.
  3. Harga Turun: Penawaran (supply) yang melimpah ini mendorong harga Obligasi A di pasar sekunder menjadi di bawah nominal, misalnya menjadi Rp 950.000 (diskon).

Jika kamu membeli obligasi ini dengan harga Rp 950.000, kamu masih menerima kupon Rp 60.000 per tahun, ditambah keuntungan modal Rp 50.000 saat jatuh tempo (karena dikembalikan sebesar nominal Rp 1.000.000). Total imbal hasilmu (YTM) sekarang jauh lebih besar dari 6%. Dalam hal ini, harga turun, dan yield naik.

Implikasi Praktis untuk Investor Ritel

Mengapa Berita ‘Indeks Naik, Yield Turun’ Penting?

Indeks Obligasi mewakili rata-rata harga obligasi yang ada di pasar. Ketika indeks naik (seperti 12,42% pada 2025 dalam berita), ini menunjukkan bahwa pasar obligasi sedang mengalami periode bullish (naik). Peningkatan harga ini terjadi karena investor memproyeksikan atau sudah bereaksi terhadap lingkungan suku bunga yang rendah atau akan menurun.

Bagi investor yang sudah memegang obligasi, kenaikan indeks berarti mereka mendapatkan capital gain (keuntungan modal) dari obligasi yang mereka pegang.

Namun, bagi investor baru yang ingin masuk, yield yang turun (misalnya dari 7,5% menjadi 6,5%) berarti mereka harus membayar harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan aliran pendapatan yang sama. Sederhananya, peluang imbal hasil di masa depan menjadi lebih rendah.

Risiko Suku Bunga dan Konsep Durasi

Hubungan terbalik ini membawa kita pada risiko utama di pasar obligasi: Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk). Risiko ini adalah kemungkinan nilai obligasi turun karena kenaikan suku bunga umum.

Untuk mengukur seberapa sensitif obligasi terhadap perubahan suku bunga, kita menggunakan metrik yang disebut Durasi (Duration).

Durasi diukur dalam satuan tahun dan secara kasar menunjukkan persentase perubahan harga obligasi untuk setiap perubahan 1% pada yield-nya:

Durasi Tinggi = Sensitivitas Tinggi. Obligasi dengan jangka waktu jatuh tempo panjang dan kupon kecil biasanya memiliki durasi yang tinggi. Artinya, jika suku bunga naik sedikit saja, harganya akan anjlok drastis.

Durasi Rendah = Sensitivitas Rendah. Obligasi yang sebentar lagi jatuh tempo atau memiliki kupon tinggi cenderung memiliki durasi rendah. Perubahan suku bunga tidak terlalu memengaruhi harganya.

Sebagai investor, kamu harus memahami durasi portofolio obligasimu. Jika kamu memprediksi suku bunga akan naik, kamu sebaiknya mengurangi durasi portofolio (pindah ke obligasi jangka pendek atau kupon tinggi). Sebaliknya, jika kamu memprediksi suku bunga akan turun, kamu bisa meningkatkan durasi untuk memaksimalkan capital gain yang terjadi akibat harga obligasi melonjak.

Strategi dan Kesimpulan untuk Kamu

Pasar obligasi adalah pasar yang sangat responsif terhadap kebijakan moneter. Kenaikan harga obligasi (Indeks Naik) selalu menjadi cerminan bahwa pasar memperkirakan kebijakan suku bunga yang lebih longgar (mudah) atau sudah mendapatkan dampaknya.

Ingatlah tiga poin kunci ini:

  1. Hubungan Terbalik: Harga dan Yield obligasi bergerak berlawanan arah. Ini adalah hukum alam pasar utang.
  2. Suku Bunga Adalah Kunci: Perubahan suku bunga acuan adalah pendorong utama perubahan harga obligasi. Ketika suku bunga turun, obligasi lama menjadi ‘emas’ dan harganya naik.
  3. Yield Adalah Barometer: Yield yang ada di pasar saat ini adalah indikator imbal hasil yang akan diterima investor baru. Semakin rendah yield, semakin tinggi harga yang harus kamu bayar.

Investasi yang cerdas di pasar obligasi bukan hanya tentang melihat kupon, tetapi juga memantau pergerakan suku bunga dan memahami konsep yield to maturity serta durasi. Dengan menguasai hubungan terbalik ini, kamu tidak akan lagi bingung melihat berita keuangan, dan kamu bisa mengambil keputusan investasi yang jauh lebih terinformasi!

Disclaimer: Investerbaik adalah media informasi dan edukasi, bukan manajer investasi. Segala keputusan investasi ada di tangan Kamu.

Ditulis Oleh

Ditnov

Seorang blogger, wordpress designer dan investor pemula yang ingin berbagi sedikit ilmunya mengenai investasi dan keuangan.

Market Live

Update
🟡 Harga Emas
Spot IDR
per gram
Rp 2.387.824 ▼ 0.37%
Spot USD
per ounce
$ 4.421,87 ▼ 0.37%
Harga Antam
estimasi butik
Rp 2.471.397 ▼ 0.37%
Buyback
jual kembali
Rp 2.292.311 ▼ 0.37%
Perhiasan
kadar 24k
Rp 2.626.606 ▼ 0.37%
🟢 Harga Kripto
BTC
Bitcoin
Rp 1.518.067.384 -2.33%
ETH
Ethereum
Rp 52.518.017 -3.72%
SOL
Solana
Rp 2.283.521 -1.86%
BNB
BNB
Rp 14.937.259 -2.51%
USDT
Tether
Rp 16.774 +0.02%

Langganan Artikel Terbaru

Dapatkan edukasi dan informasi terbaru seputar investasi dan keuangan langsung ke inbox kamu.

📅 Kalender Ekonomi

Waktu Indonesia Barat (WIB)