Baca Penafian Lengkap →
Investerbaik – Dunia aset kripto, yang selama ini dipromosikan sebagai revolusi finansial dan jalan pintas menuju kebebasan finansial, baru-baru ini mendapatkan sorotan tajam dari sudut pandang yang sangat berbeda. Tere Liye, salah satu penulis fiksi dan nonfiksi terkemuka di Indonesia, secara terbuka menyuarakan skeptisismenya terhadap mata uang digital ini. Dalam pandangannya, apa yang tampak sebagai peluang investasi emas sering kali hanyalah ilusi kekayaan yang dibangun di atas fondasi yang rapuh, spekulasi murni, dan kurangnya nilai fundamental yang substansial.
Komentar Tere Liye bukan sekadar ungkapan ketidakpercayaan, melainkan sebuah refleksi mendalam terhadap sifat dasar dari banyak aset kripto yang ada saat ini. Ia menyoroti fenomena di mana harga aset tersebut cenderung bergerak berdasarkan narasi (hype) daripada utilitas nyata, menjadikannya arena yang sangat berisiko bagi investor awam yang mencari keuntungan cepat.
Kripto sebagai Ilusi Kekayaan: Mitos vs. Realitas
Dalam narasi investasi modern, kripto sering kali digambarkan sebagai aset yang mendisrupsi sistem keuangan tradisional. Namun, bagi Tere Liye, narasi tersebut sering kali mengaburkan realitas ekonomi yang mendasarinya. Banyak proyek kripto yang ada saat ini tidak menawarkan solusi nyata terhadap masalah ekonomi yang ada; mereka lebih berfungsi sebagai instrumen untuk memindahkan kekayaan dari investor baru ke investor awal (early adopters) melalui mekanisme spekulatif.
“Ini adalah ilusi kekayaan,” ujar Tere Liye, menggarisbawahi bahwa dinamika pasar kripto sering kali lebih mirip kasino daripada pasar investasi yang terstruktur. Ketika sebuah aset tidak didukung oleh aliran pendapatan riil, hak kepemilikan atas aset produktif, atau manfaat nyata dalam rantai pasok global, nilainya sepenuhnya bergantung pada persepsi kolektif dan kemauan orang lain untuk membayar harga yang lebih tinggi di masa depan. Ini adalah definisi klasik dari apa yang disebut sebagai *Greater Fool Theory*.
Ketergantungan pada Aliran Dana Baru
Salah satu kritik utama yang dilontarkan adalah ketergantungan yang ekstrem pada masuknya uang baru (new money) untuk menjaga kenaikan harga. Dalam ekonomi tradisional, nilai sebuah perusahaan (misalnya saham) didukung oleh laba yang dihasilkan, arus kas, dan aset riil yang dimilikinya. Sebaliknya, banyak koin kripto yang nilainya meroket hanya karena semakin banyak orang yang tertarik untuk membelinya, berharap mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut.
Ketergantungan ini menciptakan siklus yang sangat rentan. Begitu sentimen pasar berbalik atau aliran dana baru melambat, harga dapat anjlok secara dramatis. Bagi investor ritel yang masuk di puncak euforia, kerugian bisa sangat signifikan. Tere Liye menekankan bahwa struktur ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang dan secara inheren tidak stabil karena tidak terikat pada fundamental ekonomi yang kuat.
Minimnya Manfaat Nyata dan Utilitas
Selain masalah spekulasi, Tere Liye juga mempertanyakan utilitas nyata dari sebagian besar aset kripto yang diperdagangkan. Meskipun Bitcoin diciptakan dengan visi revolusioner sebagai sistem pembayaran peer-to-peer tanpa perantara, implementasinya di dunia nyata masih jauh dari adopsi massal yang signifikan sebagai alat tukar sehari-hari. Biaya transaksi yang tinggi, volatilitas ekstrem, dan tantangan regulasi menghambat fungsinya sebagai mata uang yang stabil.
Banyak proyek altcoin lainnya mengklaim membawa inovasi, namun dalam banyak kasus, janji-janji tersebut tidak terealisasi. Proyek-proyek ini sering kali gagal mengatasi hambatan teknis atau pasar yang ada, menyisakan aset digital yang hanya diperdagangkan berdasarkan narasi pemasaran yang kuat, bukan karena fungsinya dalam ekosistem ekonomi global.
“Jika sebuah aset tidak memecahkan masalah nyata atau menciptakan nilai tambah yang terukur, maka aktivitas di sekitarnya cenderung bersifat transaksional dan spekulatif,” demikian pandangan yang sering diungkapkan oleh para kritikus yang sependapat dengan Tere Liye. Mereka berargumen bahwa investasi yang sehat seharusnya mengalir ke sektor yang meningkatkan produktivitas, inovasi yang berkelanjutan, atau pengelolaan risiko yang lebih baik—hal-hal yang kurang terlihat secara dominan dalam ekosistem kripto saat ini.
Spekulasi vs. Investasi
Perbedaan antara spekulasi dan investasi adalah inti dari kritik ini. Investasi adalah penempatan modal dengan harapan menghasilkan pengembalian berdasarkan fundamental dan potensi pertumbuhan jangka panjang aset produktif. Spekulasi, di sisi lain, adalah upaya untuk mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga jangka pendek, sering kali tanpa memahami atau peduli terhadap nilai intrinsik aset tersebut.
Pasar kripto, dengan volatilitasnya yang ekstrem, sangat menarik bagi spekulan. Platform perdagangan yang mudah diakses, ditambah dengan janji keuntungan ribuan persen dalam waktu singkat, menciptakan lingkungan yang mendorong perilaku spekulatif. Sayangnya, perilaku ini sering kali disalahartikan oleh publik sebagai ‘investasi’ yang cerdas, padahal risikonya jauh lebih tinggi daripada pasar modal tradisional yang teregulasi.
Bagi banyak investor baru, mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang berpartisipasi dalam permainan probabilitas yang tinggi, di mana manajemen risiko yang buruk atau sekadar salah waktu dapat berarti kerugian modal yang tidak dapat dipulihkan. Tere Liye menyarankan agar investor selalu mendasarkan keputusan mereka pada pemahaman mendalam mengenai aset, bukan hanya pada desas-desus media sosial.
Implikasi bagi Literasi Keuangan
Pandangan kritis dari tokoh publik seperti Tere Liye memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat. Di tengah hiruk pikuk investasi yang didorong oleh FOMO (*Fear of Missing Out*), diperlukan suara-suara yang mengingatkan pentingnya kehati-hatian dan analisis fundamental.
Literasi keuangan sejati menuntut individu untuk membedakan antara aset yang menciptakan nilai (seperti properti yang menghasilkan sewa, saham perusahaan yang berinovasi, atau obligasi yang memberikan bunga terjamin) dan aset yang nilainya sepenuhnya bergantung pada spekulasi pasar. Jika sebuah aset tidak dapat dijelaskan manfaatnya kepada orang yang tidak memiliki minat langsung untuk memperdagangkannya, maka pertanyaan serius mengenai nilai jangka panjangnya harus diajukan.
Sebagai penutup, meski dunia kripto menawarkan potensi teknologi *blockchain* yang menarik, kritik Tere Liye menyoroti bahwa mayoritas aset yang diperdagangkan saat ini masih terperangkap dalam fase spekulatif yang sangat berisiko. Bagi Investerbaik, pendekatan yang bijaksana adalah tetap berpegang pada prinsip investasi yang sehat: memahami apa yang Anda miliki, mengukur risikonya, dan memastikan bahwa investasi tersebut didukung oleh fundamental yang kuat, bukan sekadar ilusi digital.
Disclaimer: Investerbaik adalah media informasi dan edukasi. Segala keputusan investasi ada di tangan Kamu.
