Proyeksi Suram 2025: Mengapa 88% Penjualan Token Berisiko ‘Ambyar’ dan Peluang 12% untuk Cuan

Ditnov
Desember 31, 2025
23x Dilihat
Baca Berita Terbaru Seputar Emas  Saham  Kripto Dan Reksadana Di Investerbaik
Disclaimer Penting
Harap diperhatikan bahwa konten di Investerbaik.com hanya bersifat edukasi dan informasi. Kami TIDAK mengajak, menyarankan, atau memaksa kamu untuk membeli aset keuangan apapun (seperti saham, reksa dana, obligasi, aset kripto, dan lainnya). Segala keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan kamu.

Baca Penafian Lengkap →

Investerbaik – Angka-angka dari tahun 2025 memunculkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan bagi para investor token digital. Dari total 533 penjualan token yang tercatat, hanya sekitar 12 persen yang dilaporkan masih memberikan keuntungan atau ‘cuan’. Fakta ini menyiratkan bahwa mayoritas, atau sekitar 88 persen, dari proyek-proyek token tersebut berujung pada kerugian atau ‘ambyar’. Fenomena ini bukan hanya sekadar statistik, tetapi sebuah peringatan keras bagi siapapun yang terjun ke dunia aset kripto, terutama melalui penjualan token yang marak dikenal sebagai Initial Coin Offering (ICO), Initial Exchange Offering (IEO), atau bentuk penawaran token lainnya.

# Mengapa Mayoritas Penjualan Token Berisiko ‘Ambyar’?

Angka 88% yang ‘ambyar’ bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan. Ada banyak faktor kompleks yang berkontribusi pada tingkat kegagalan yang tinggi ini. Memahami akar masalahnya adalah kunci untuk menghindari jebakan yang sama dan mencoba masuk ke dalam kelompok 12% yang berhasil.

1. Proyek Kripto yang Tidak Berkelanjutan atau Oplosan

Salah satu alasan utama adalah banyaknya proyek kripto yang diluncurkan tanpa dasar fundamental yang kuat. Banyak tim pengembang yang hanya mengandalkan hype atau janji-janji bombastis tanpa memiliki rencana bisnis yang matang, teknologi yang inovatif, atau kebutuhan pasar yang jelas. Ini seringkali menghasilkan token yang tidak memiliki utilitas nyata atau ekosistem yang mendukung penggunannya.

Sobat Investerbaik, bayangkan kamu membeli saham perusahaan yang tidak punya produk atau visi jelas. Kemungkinan besar, nilainya akan terus merosot. Hal yang sama berlaku untuk token. Tanpa utilitas yang jelas, nilai token akan sangat bergantung pada spekulasi semata, yang sifatnya sangat rentan terhadap fluktuasi pasar.

2. Penipuan dan Skema Ponzi Terselubung

Sayangnya, ruang kripto juga menarik perhatian para penipu. Banyak ICO dan penjualan token yang ternyata hanyalah kedok untuk menipu investor. Mereka mengumpulkan dana dari investor baru untuk membayar investor lama, menciptakan ilusi keuntungan yang pesat, hingga akhirnya skema tersebut runtuh dan investor kehilangan seluruh modalnya. Ini adalah bentuk klasik dari skema Ponzi, yang dibalut dengan teknologi blockchain.

Penipu ini biasanya sangat lihai dalam membangun citra proyek yang meyakinkan. Mereka membuat whitepaper yang terlihat profesional, tim yang tampak berpengalaman (meski identitasnya palsu), dan roadmap yang ambisius. Namun, ketika kamu gali lebih dalam, seringkali tidak ada substansi yang berarti di balik semua itu.

3. Ketidakmampuan Tim Eksekusi

Meskipun niatnya baik dan teknologinya potensial, banyak tim pengembang yang tidak memiliki kemampuan untuk mengeksekusi visi mereka. Membangun sebuah proyek blockchain yang sukses membutuhkan lebih dari sekadar keahlian coding. Diperlukan pemahaman mendalam tentang manajemen produk, pemasaran, pengembangan komunitas, kepatuhan regulasi, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat di pasar yang dinamis.

Banyak tim yang mungkin sangat brilian secara teknis, tetapi gagap dalam aspek bisnis dan operasional. Mereka mungkin kesulitan membangun kemitraan strategis, menarik pengguna, atau mengatasi tantangan teknis yang muncul di tengah jalan. Kegagalan dalam eksekusi ini secara alami akan menenggelamkan proyek dan tokennya.

4. Volatilitas Pasar Kripto yang Ekstrem

Pasar aset kripto dikenal dengan volatilitasnya yang ekstrem. Bahkan proyek yang paling menjanjikan pun bisa mengalami penurunan nilai yang drastis akibat sentimen pasar, berita makroekonomi, atau pergerakan harga aset kripto besar seperti Bitcoin dan Ethereum. Tekanan jual yang masif bisa membuat harga token jatuh seketika, terlepas dari fundamental proyek itu sendiri.

Investor yang memasuki pasar saat tren sedang naik (bullish) cenderung melihat keuntungan. Namun, ketika pasar berbalik arah (bearish), banyak yang tidak siap menghadapi kerugian. Kesalahan dalam manajemen risiko dan strategi keluar (exit strategy) seringkali menjadi penyebab utama kerugian besar saat pasar bergejolak.

5. Kurangnya Due Diligence Investor

Di sisi lain, banyak investor yang tidak melakukan riset yang memadai sebelum berinvestasi. Mereka mungkin tergiur oleh iming-iming keuntungan cepat atau rekomendasi dari pihak yang tidak terverifikasi. Tanpa melakukan ‘due diligence’ yang mendalam, investor ibarat membeli kucing dalam karung.

Due diligence bukan hanya melihat whitepaper. Kamu perlu meneliti tim di baliknya, cek rekam jejak mereka, pahami teknologi yang digunakan, analisis model tokenomicsnya, dan cari tahu adopsi serta kemitraan yang sudah terjalin. Semakin sedikit riset yang kamu lakukan, semakin besar kemungkinan kamu menjadi bagian dari 88% yang ‘ambyar’.

# Bagaimana Menjadi Bagian dari 12% yang Cuan?

Menghindari statistik suram 88% bukanlah hal yang mustahil. Dengan pendekatan yang tepat dan pemahaman yang mendalam, kamu bisa meningkatkan peluangmu untuk meraih keuntungan dari investasi token.

1. Fokus pada Utilitas dan Adopsi Nyata

Carilah proyek-proyek yang memecahkan masalah nyata atau menawarkan solusi inovatif yang dibutuhkan pasar. Token yang memiliki utilitas yang jelas dalam ekosistemnya, seperti untuk pembayaran, akses layanan, tata kelola (governance), atau insentif, cenderung memiliki permintaan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Perhatikan adopsi. Apakah proyek tersebut sudah memiliki pengguna aktif? Apakah ada kemitraan strategis dengan perusahaan atau entitas lain yang kredibel? Adopsi adalah bukti bahwa proyek tersebut memiliki nilai dan potensi pertumbuhan jangka panjang.

2. Teliti Tim Pengembang dengan Cermat

Tim adalah tulang punggung dari setiap proyek. Lakukan riset mendalam tentang latar belakang, pengalaman, dan rekam jejak para anggota tim. Apakah mereka memiliki pengalaman yang relevan di bidang teknologi, bisnis, atau industri yang dituju oleh proyek tersebut? Apakah mereka transparan dan dapat dihubungi?

Hati-hati terhadap tim yang identitasnya disembunyikan atau tim yang anggotanya memiliki riwayat buruk dalam proyek sebelumnya. Tim yang kuat, transparan, dan berpengalaman adalah indikator positif yang signifikan.

3. Analisis Tokenomics yang Solid

Tokenomics merujuk pada desain ekonomi token, termasuk bagaimana token didistribusikan, apa fungsinya, bagaimana inflasi atau deflasi dikelola, dan bagaimana insentif diberikan kepada pemegang token. Tokenomics yang baik akan memastikan keberlanjutan jangka panjang dan menghindari kerugian nilai yang drastis.

Pahami pasokan total token, jadwal vesting untuk tim dan investor awal, serta mekanisme pembakaran (burning) atau staking jika ada. Tokenomics yang dirancang dengan baik akan mendukung nilai token seiring dengan pertumbuhan ekosistem.

4. Manajemen Risiko yang Disiplin

Dalam dunia kripto, manajemen risiko adalah segalanya. Jangan pernah menginvestasikan lebih dari yang kamu mampu untuk kehilangan. Diversifikasi portofoliomu ke beberapa aset kripto yang berbeda untuk mengurangi risiko jika salah satu aset mengalami kerugian.

Tetapkan target keuntungan dan batas kerugian (stop-loss) yang jelas. Disiplin dalam mengikuti rencana investasi ini akan membantumu menghindari keputusan emosional yang merugikan saat pasar berfluktuasi.

5. Tetap Update dengan Perkembangan Industri

Industri kripto berkembang sangat pesat. Teknologi baru, tren pasar, dan perubahan regulasi dapat memengaruhi nilai aset kripto. Tetaplah belajar dan update dengan berita serta perkembangan terbaru dari sumber yang terpercaya.

Memahami lanskap regulasi juga penting. Peraturan yang berubah dapat memengaruhi legalitas dan penerimaan suatu token. Dengan pengetahuan yang up-to-date, kamu bisa membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan adaptif.

# Kesimpulan: Waspada dan Selektif

Angka 88% penjualan token yang ‘ambyar’ di 2025 seharusnya menjadi lonceng peringatan bagi semua investor. Ini bukan berarti pasar token digital itu buruk, melainkan membutuhkan pendekatan yang lebih cerdas, hati-hati, dan selektif. Fokus pada proyek yang memiliki fundamental kuat, tim yang kompeten, tokenomics yang solid, dan utilitas yang nyata adalah kunci untuk meningkatkan peluangmu menjadi bagian dari 12% yang berhasil meraih keuntungan.

Sobat Investerbaik, jangan tergiur oleh janji-janji manis atau FOMO (Fear Of Missing Out). Lakukan risetmu sendiri, pahami risikonya, dan berinvestasilah dengan bijak. Masa depan aset digital memang menjanjikan, tetapi hanya bagi mereka yang siap untuk belajar dan beradaptasi dengan cermat.

Disclaimer: Artikel ini ditulis otomatis oleh AI Investerbaik.

Ditulis Oleh

Ditnov

Seorang blogger, wordpress designer dan investor pemula yang ingin berbagi sedikit ilmunya mengenai investasi dan keuangan.

Market Live

Update
🟡 Harga Emas
Spot IDR
per gram
Rp 2.325.664 ▲ 0.48%
Spot USD
per ounce
$ 4.333,22 ▲ 0.48%
Harga Antam
estimasi butik
Rp 2.407.063 ▲ 0.48%
Buyback
jual kembali
Rp 2.232.638 ▲ 0.48%
Perhiasan
kadar 24k
Rp 2.558.231 ▲ 0.48%
🟢 Harga Kripto
BTC
Bitcoin
Rp 1.462.078.089 -0.79%
ETH
Ethereum
Rp 49.682.836 +0.45%
SOL
Solana
Rp 2.077.511 -0.71%
BNB
BNB
Rp 14.347.044 -0.56%
USDT
Tether
Rp 16.669 +0.02%

Langganan Artikel Terbaru

Dapatkan edukasi dan informasi terbaru seputar investasi dan keuangan langsung ke inbox kamu.

📅 Kalender Ekonomi

Waktu Indonesia Barat (WIB)
Memuat data...